Skip to main content

Posts

Showing posts with the label short stories

Surat Terakhir untuk Penghuni Mars

J anuary 3rd 2011 Kepada sahabatku, Masih ingatkah kamu? Pertama kali mengenalmu, waktu mulai kuliah di Bandung. Ternyata kamu tinggal tidak jauh dari tempat kosku. Sebagai sesama anak Jakarta yang baru pertama kali jauh dari rumah, waktu itu kita bersepuluh rajin ngumpul di rumahmu. Maklum, baru saja lepas dari pengawasan orang tua. Masih ingat ga? Waktu kalian semua jemput aku jam 10.00 malam di tempat kosanku. Maaf yah, kalau aku lupa bilang bapak kosku galaknya minta ampun. Tapi selanjutnya, lemparan batu ke jendela kamar tidurku ternyata cukup ampuh, untuk bikin aku bangun, keluar mengendap-endap lalu kabur dugem bersama kalian. Naughtiness will find a way... :)

Her Trip

Panggilan kepada para penumpang SQ151 Singapore-London kembali berkumandang di Terminal 2 Bandara Changi Singapore. Mesa berdiri gelisah di dalam antrian panjang di depan kasir toko buku Borders. Tangannya memegang 3 buah novel tebal, bekalnya untuk 12 jam ke depan di dalam pesawat nanti. Masih ada tiga orang lagi yang berdiri di depannya sebelum gilirannya tiba. Dan kelihatannya pembeli paling depan bermasalah dengan kartu kreditnya. Hatinya mendua, antara meninggalkan antrian untuk segera boarding namun tidak rela meninggalkan novel-novel yang sudah ingin dibelinya sejak lama. Akhirnya dia bertahan sampai tiba gilirannya membayar, Mesa mengulurkan lembaran Singapore dollarnya. Lalu bergegas meninggalkan toko buku itu, setengah berlari menuju Gate 24. Thanks to her flat shoes and thanks to her experiences as travelling junkie – meminjam julukan Bella yang diberikan kepadanya - so she only bring this small shoulder bag to cabin. Sampai juga dia di depan Gate 24 langsung masuk mele...

Her Day

“ Ting..ting..,” terdengar dentingan bel yang terpasang di pintu masuk kedai Cupcakes Heaven. Pertanda ada customer yang datang, Inge bangkit dari duduknya, matanya melirik ke arah jam tangan silver yang melingkar manis di lengannya. Hadiah ultah dari mantan pacarnya alias Mas Nugie, suaminya. Jam 7.15 malam, kedainya sudah tutup sejak satu jam yang lalu, namun memang biasanya Inge baru pulang sekitar pukul 8 untuk mempersiapkan pesanan cupcakes untuk keesokan harinya. Seorang pemuda kira-kira berusia 20-something, berkemeja biru muda dan jeans hitam masuk ragu-ragu ke dalam kedainya. Inge tersenyum melihatnya. Wajah pemuda itu mirip salah satu personil SM*SH, atau memang jaman sekarang semua anak mudanya mukanya seragam seperti itu. “ Maaf, ini sudah tutup yah atau masih bisa menerima pesanan ?” tanyanya ragu-ragu. “ Ada yang bisa dibantu, Mas?” tanya Inge ramah. Anak muda itu terlihat lega dan menghampiri counter display cupcakes yang dihias cantik milik Inge. “ Bisa banget,...

Her World

Jam dinding di sebuah pusat kebugaran di selatan kota Jakarta menunjukkan tepat pukul 8 malam. Meskipun udara di dalam studio yoga terasa sangat dingin, Tanya mengelap keringat yang menetes di keningnya. Kaos tipis yang dikenakannya seakan menempel di tubuhnya, basah oleh keringat. Setelah melakukan berbagai pose yoga mulai dari downward-facing dog, plank pose, chaturanga dandasana dan diakhiri dengan salamba sirsasana atau supported headstand , Tanya merasa pikirannya lebih tenang. That's the power of yoga. Seluruh pose yoga seakan dapat merilekskan otot-ototnya sekaligus pikirannya. Sambil berjalan menuju locker room, Tanya membalas sapaan beberapa orang yang telah lama dikenalnya sejak dia menjadi anggota di pusat kebugaran ini. Membuka gembok lockernya, mengambil perlengkapan mandinya, sambil sekilas membaca pesan Andri di smartphonenya. “ Babe, I'll be at coffee shop outside. Meet me when you finish.” Tanya tersenyum, membayangkan pasti sekarang Andri sedang sibuk be...

Her Life

Bella menutup notebook di hadapannya. Yes, Writer's Blocked. Musuhnya para penulis. Sudah 2 jam dia mencoba fokus pada artikel yang ditulisnya. Namun sulit sekali rasanya dia berkonsentrasi. Pikirannya melayang-layang entah kemana, yang pasti keluar melewati tembok apartemen yang dingin. Deadline artikel tinggal 2 jam lagi. Matanya memandang smartphone yang tergeletak di samping netbooknya. Satu hal yang berusaha ditahannya sejak 2 jam yang lalu. Diraihnya benda itu, mencari satu nama di antara semua kontak instant messengernya, dan jemarinya pun mengetik dengan lincah di atas keyboard QWERTYnya. PrincessBella: Masih meeting? Ga mau mampir ke sini? GerrySantoso: Yes. Best effort. Besok sudah pasti PrincessBella:Why? GerrySantoso: will be finish at 10 PM. Besok harus stand by golf jam 6 di Bogor. PrincessBella: Writer's Blocked. I need you. GerrySantoso: I'll try to stop by. Bobo aja dulu. Aku meeting lagi yah PrincessBella: Thank You, I love you. GerrySantoso:...

4LADIES and A CupCakes Shop

“SO what's your story, darling ?” tak sabar Bella membuka percakapan. Malam itu, semua anggota 4ladies sudah berkumpul di Cupcakes Heaven. Sepiring red velvet dengan topping cream cheese dan sprinkle warna-warni tersaji di hadapan mereka. “ Bikin penasaran aja nih si neng Mesa,” Inge si pemilik CupCakes Heaven terlihat penasaran. Sementara si penyebar berita, Mesa, hanya tersenyum penuh rahasia. Dengan tenang menyeruput frappe mochanya. “ Come on, Mesa. Before I loose my temper....,” kata Tanya galak “ Somebody has her bad day,” celetuk Bella sambil tersenyum. Terkadang tingkah laku Tanya tidak sesuai casing-nya yang lemah lembut dan wajahnya yang very Javanese. “ ok.. to make it short, I'm moving to London,” kata Mesa dengan ceria. Dan dengan serempak keenam pasang mata di hadapannya terbelalak. “ Hei, take it easy, Ladies. Gue dipindah ke HQ di London, but don't worry, I'm still in charge for Asia Region. So I will be travelling a lot here, to Jakarta,” kata Mesa m...

Tuna Sandwich Segitiga

Aku masih terbengong di depan gerbang sekolah baruku lengkap dengan berbagai bawaan mulai dari alat tulis sampai karung beras yang wajib dibawa pada masa orientasi sekolah ini. Tidak ketinggalan tuna sandwich segitiga bekal makan siangku. Ketika terdengar suara senior berteriak-teriak di kejauhan, aku pun tersadar dan segera berlari panik bersama-sama dengan junior lainnya. “Bruuukkk,” tiba-tiba tubuhku menabrak punggung seorang cowok. Entah darimana asalnya makhluk ini, yang aku tahu semua barang-barang bawaanku telah berhamburan di lantai. Tuna sandwich segitiga turut menjadi korban peristiwa ini, sukses terlempar ke lantai lobby sekolah. Ah, makan siangku, jeritku dalam hati. “Ups maaf, sini aku bantu,” katanya sambil menyelempangkan kamera lensa besar di bahunya, dari seragamnya aku tahu dia kakak seniorku.“ Sorry yah, roti kamu jadi kotor,” katanya minta maaf. “Bukan roti, ini sandwich tuna segitiga, “kataku mengoreksi tegas. Cowok itu tertegun mendengar jawabanku. Lalu kami berdu...

London's Bites

Hampstead, London, 2010 “ May I speak to Diandra, please?” tanya seorang cowok di seberang sana. “ Yes, this is Diandra, Who’s speaking?” “ Apa kabar, cantik?” “ Siapa sih ini?” “ This is your Romeo.” “ Udah deh jangan becanda. Do I know you?” “ You look really beautiful on TV. Ga nyangka banget gue bisa nonton eks gue di Local TV. Udah lama jadi weather reporter?” Diandra terdiam mengenali suara berat dan dalam cowok itu. “ Still hasn’t get the clue who I am. Pink Envelopes with roses stamps from Washington, I never forget you, Diandra.” Oh My God, It can’t be him. “ Is this Romi ?” “ Correct, girl. Apa kabar ?” Tiba-tiba tangan Diandra terasa dingin, padahal matahari musim panas sedang terik-teriknya membakar London. Kenapa dia harus mendengar suara itu lagi setelah hampir lima tahun. Kenapa harus Romi yang meneleponnya siang itu. “ Kabar baik. Kamu sendiri gimana ? Ada angin apa tiba-tiba telepon aku di sini ? I thought you are somewhere in US.” Romi tertawa pelan, Diandra merasak...

Choice of Love

“ Siapa tuh, Din?” Tanya Loli “ Kak Ridho. Anak 98, dia kan ikutan seminar juga.” " Oh yang waktu itu main keyboardnya jago banget yah pas acara pentas musik" " Anda benar!!!” “ Lucu juga yah ?” “ Dasar loe, mau dikemanain cowok loe.” “ Gue kan cuma bilang lucu doang.” Mata Loli tidak dapat lepas dari sosok Ridho. Cowok itu ga cakep-cakep banget, malah bisa dibilang ga cakep sama sekali. Tubuhnya kurus dengan kacamata minus di hidungnya. Tapi kalau ingat bagaimana dia memainkan I’ll be over you nya Toto dengan keyboardnya. Omigod…jadi ganteng banget mukanya. Apalagi dari dulu Loli emang selalu ngefans sama cowok yang bisa main musik. Menurutnya cowok yang bisa main musik itu segahar apapun tampangnya pasti lembut hatinya. Cie… Ups, dia nengok dong. Loli buru-buru memalingkan wajahnya ke tempat lain. Dan pura-pura sibuk mengatur ini-itu jalannya seminar. Tapi ketika matanya melirik lagi ke tempat Ridho, Omigod dia masih ngeliatin Loli dan malah dengan...